Facebook Fans

Briptu Norman Kuliah Gratis di UBK

JAKARTA, KOMPAS.com — Kabar baik tengah melingkupi anggota Brimob Polda Gorontalo, Briptu Norman Kamaru, yang tengah menjadi "selebriti" karena video menyanyinya tersebar luas di dunia maya. Setelah diizinkan masuk dapur rekaman, Senin (11/4/2011), ia mendapat beasiswa dari Universitas Bung Karno (UBK) untuk menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Hukum UBK secara gratis.

Lampu Antik Hasil Olahan Logam Alumunium

Hasil olahan atau daur ulang dari logam alumunium ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi bahkan sampai menembus pasar internasional. Rusmani adalah salah satu dari pengrajin barang-barang antik berbahan logam alumunium asal Yogyakarta, yang telah berhasil menembus pasar Asia dan Eropa.

Curi Tisu Toilet, Politikus Dibekuk

BERLIN, KOMPAS.com - Seorang politikus Jerman dibekuk tak lama setelah ketahuan mencuri tisu gulungan dari sejumlah toilet pria di sebuah balaikota, kata pihak berwenang Rabu (13/4). Aksi politikus itu, Frank-Michael John (24 tahun), tertangkap basah beberapa petugas kebersihan dalam sebuah operasi mendadak.

Anggota DPR Kepergok Nonton Bokep Waktu Rapat Paripurna

JAKARTA, KOMPAS.com — Seorang anggota DPR yang belum diketahui identitasnya menikmati film porno (bukan gambar seperti yang diberitakan sebelumnya) saat Rapat Paripurna Penutupan Masa Sidang III di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (8/4/2011). Ia menonton film tersebut selama lebih kurang satu menit.

Mumi Janin Berdiam di Perut Selama 30 Tahun

Janin yang dikandung oleh seorang ibu harusnya dikeluarkan dari dalam tubuh. Tapi perempuan asal Dominika tidak mengetahui keberadaan janin di dalam perutnya, setelah 30 tahun janin tersebut sudah menjadi mumi.

Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 April 2011

Tidak Bisa Kentut Bisa Sebabkan Kematian


Banyak orang yang merasa malu jika ketahuan kentut, karena masalah perkentutan seringkali dinilai salah dari sisi etika dan kesopanan. Tapi jangan remehkan kentut, karena orang bisa meninggal hanya gara-gara tak bisa mengeluarkan gas dari tubuh.

Dalam frekuensi normal, kentut merupakan hal yang sehat karena menandakan sistem pencernaan khususnya gerakan peristaltik usus hingga anus berjalan dengan normal.

Bila frekuensinya berlebihan, maka menandakan adanya gangguan di perut. Tapi yang lebih buruk dan dapat mengancam nyawa adalah bila orang tidak bisa mengeluarkan gas dari dalam tubuhnya alias tidak bisa kentut.

Ketidakmampuan tubuh mengeluarkan gas atau kentut dari dalam tubuh dapat mengancam jiwa karena disebabkan oleh kondisi peritonitis. Peritonitis adalah peradangan (iritasi) dari peritoneum, yaitu jaringan tipis yang melapisi dinding bagian dalam perut dan mencakup sebagian besar organ perut.

Dilansir dari Medlineplus, gejala dari peritonitis secara umum adalah sebagai berikut:
1.   Perut (abdomen) sangat sakit, kembung dan kadang lembek. Rasa sakit akan semakin memburuk ketika  perut disentuh atau bergerak.
2.   Ketidakmampuan mengeluarkan gas atau kentut dari tubuh.
3.   Demam dan menggigil.
4.   Terdapat cairan di perut.
5.   Susah buang air besar.
6.   Kelelahan berlebihan.
7.   Hanya sedikit buang air kecil.
8.   Mual dan muntah.

Peritonitis dapat mengancam kehidupan dan dapat menyebabkan beberapa komplikasi yang berbeda. Ada tiga jenis peritonitis, yaitu sebagai berikut:
1.   Peritonitis spontan
Peritonitis spontan biasanya disebabkan oleh infeksi ascitesascites, yaitu pengumpulan cairan dalam rongga peritoneal. Hal ini biasanya terjadi karena gagal hati atau ginjal.

Faktor risiko meliputi penderita penyakit hati termasuk orang yang mengosumsi alkohol berlebihan dan penyakit lainnya yang mengarah ke sirosis, seperti virus hepatitis kronis (hepatitis B atau hepatitis C).

2.   Peritonitis sekunder
Peritonitis sekunder memiliki beberapa penyebab utama, salah satunya karena bakteri. Bakteri dapat memasuki peritoneum melalui lubang (perforasi) pada saluran pencernaan. Lubang tersebut dapat disebabkan oleh usus buntu yang pecah, radang lambung, perforasi usus, atau luka, seperti luka tembak atau pisau.

Peritonitis sekunder juga dapat terjadi jika empedu atau bahan kimia yang dilepaskan oleh pankreas (enzim pankreas) bocor ke selaput rongga perut.

Kontaminan asing juga dapat menyebabkan peritonitis sekunder jika masuk ke dalam rongga peritoneal. Hal ini dapat terjadi selama penggunaan kateter dialisis peritoneal atau tabung makan.

3.   Peritonitis dialysis
Peritonitis dialisis adalah peradangan pada selaput rongga perut (peritoneum) yang terjadi ketika seseorang menerima dialisis peritoneal, yang disebabkan oleh bakteri yang masuk ke wilayah tersebut pada prosedur dialisis. Bakteri kulit atau jamur dapat menyebabkan infeksi.

Penyebab peritonitis harus diidentifikasi dan segera diobati. Bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segeralah menghubungi dokter atau rumah sakit, karena kondisi ini bisa sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Pengobatan biasanya melibatkan operasi dan antibiotik.

Sumber: Merry Wahyuningsih – detikHealth

Senin, 28 Maret 2011

Permainan "Roller Coaster" Memicu Trauma Pendengaran

LAS VEGAS, KOMPAS.com — Taukah Anda jika permainan Roller Coaster dapat memicu trauma pada pendengaran? 

Meluncur di atas roller coaster mungkin bisa mengatasi ketegangan dan memacu adrenalin, tetapi ada bahaya kesehatan telinga yang perlu Anda ketahui. Penelitian menunjukkan, laju roller coaster yang sangat cepat bisa menyebabkan sakit telinga yang disebut barotrauma.


Pada pertemuan para ahli telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) di Las Vegas, akhir April lalu, ditampilkan sebuah kasus pasien yang menderita barotrauma setelah menaiki roller coaster berkecepatan 120 kilometer per jam dalam empat detik. Sekitar 36 jam setelah naik permainan itu, pasien itu mengeluhkan rasa sakit dan penuh pada bagian telinga kanan.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter menemukan kerusakan pada bagian telinga kanan, yakni pembengkakan saluran telinga dan peradangan pada gendang telinga meski tidak terjadi robekan. Dokter menduga, bagian telinga kanan yang sakit itu terpengaruh saat roller coaster membalik dan kepala berada di bawah.

Ketua peneliti, Kathleen L Yaremchuk, dari Henry Ford Hospital, AS, menduga, telinga si pasien mengalami tekanan cukup tinggi saat roller coaster melaju. "Para dokter harus mewaspadai kemungkinan roller coaster sebagai penyebab barotrauma. Kami merekomendasikan orang yang ingin naik roller coaster harus memperhatikan durasi permainan untuk mengurangi dampak tekanan pada telinga," katanya.

Barotrauma sering kali dialami penumpang pesawat udara atau penyelam. Gejalanya berupa sakit telinga, gangguan pendengaran ringan, dan rasa penuh dalam telinga. Rasa ini disebabkan karena gendang telinga terdorong ke luar atau ke dalam akibat perubahan tekanan udara.

Masalah lebih berat dapat terjadi jika perubahan tekanan udara cukup besar atau saluran tuba eustachius tersumbat seluruhnya. Pembuluh darah halus (kapiler) telinga tengah akan pecah dan menyebabkan perdarahan. Darah yang memenuhi telinga menimbulkan gangguan pendengaran.

Tentu saja tidak semua penumpang roller coaster akan mengalami gangguan telinga. Yaremchuk menegaskan bahwa kasus yang dialami pasiennya sangat unik. Kendati demikian, ia menyarankan agar kita bisa melakukan pencegahan agar tidak terjadi barotrauma.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites